PERKEBUNAN INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bulan Maret 2026 mencapai 4.403 ribu ton, turun 12,22 persen dari bulan sebelumnya 5,015 ribu ton. Demikian juga produksi PKO bulan Maret yang turun menjadi 418 ribu ton dari 485 ribu ton di bulan Februari.
“Sehingga total produksi CPO dan PKO Maret 2026 mencapai 4.821 ribu ton lebih kecil minus 12,35 persen dari bulan sebelumnya 5.500 ribu ton,” ungkap Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dalam keterangan resminya yang diterima perkebunanindonesia.com, Senin (25/5/2026).
Lebih lanjut Mukti mengatakan, secara year on year (YoY) sampai dengan Maret, produksi CPO dan PKO 2026 naik menjadi 15.558 ribu ton atau 18,44 persen lebih tinggi dari produksi 2025 sebesar 13.135 ribu ton.
GAPKI juga mencatat, total konsumsi dalam negeri mengalami penurunan minus 8,25 persen dari 2.305 ribu ton di bulan Februari menjadi 2.115 ribu ton pada bulan Maret 2026.
“Penurunan terbesar terjadi pada konsumsi pangan yang turun menjadi 897 ribu ton atau minus 9,03 persen dari bulan sebelumnya sebesar 986 ribu ton,” ujar Mukti.
Konsumsi biodiesel juga turun minus 7,71 persen menjadi 1.056 ribu ton dari 1.144 ribu ton pada bulan sebelumnya, dan konsumsi oleokimia turun minus 7,43 persen, menjadi 162 ribu ton dari 175 ribu ton pada bulan sebelumnya.
Secara YoY sampai dengan Maret, konsumsi 2026 naik menjadi 6.524 ribu ton atau 7,47 persen lebih tinggi dari konsumsi 2025 sebesar 6.071 ribu ton.
Sedangkan untuk total ekspor produk sawit pada Maret 2026 turun menjadi 2.168 ribu ton atau minus 34,25 persen dari ekspor Februari sebesar 3.297 ribu ton.
“Penurunan ekspor terjadi pada CPO yang menjadi 96 ribu ton dari 395 ribu ton pada bulan sebelumnya (-75,61 persen),” kata Mukti.
Ekspor olahan minyak inti sawit juga melorot 44,67 persen yang menjadi 94 ribu ton dari 171 ribu ton, dan olahan minyak sawit yang menjadi 1.506 ribu ton dari 2.267 ribu ton (-33,57%).
Sedangkan kenaikan ekspor terjadi pada oleokimia yang naik menjadi 468 ribu ton dari 462 ribu ton pada bulan sebelumnya (+1,42 persen). Secara YoY sampai dengan Maret, ekspor 2026 naik menjadi 8.546 ribu ton atau 11,91 persen lebih tinggi dari ekspor 2025 sebesar 7.637 ribu ton.
Menurut negara tujuannya, terjadi penurunan ekspor pada bulan Maret dibandingkan bulan sebelumnya yaitu untuk China (-314 ribu ton), India (-291 ribu ton), Pakistan (-113 ribu ton), Bangladesh (-90 ribu ton), Afrika (-81 ribu ton), Middle East (-77 ribu ton), Malaysia (-71 ribu ton), USA (-41 ribu ton) dan EU 27 (-25 ribu ton). Sedangkan kenaikan ekspor terjadi untuk tujuan Russia (24 ribu ton).
Secara YoY sampai dengan Maret, penurunan ekspor 2026 dari ekspor 2025 terjadi untuk tujuan Pakistan (-118 ribu ton), USA (-93 ribu ton), Russia (-28 ribu ton), dan EU-27 (-13 ribu ton).
Sedangkan peningkatan ekspor terjadi untuk tujuan China (+673 ribu ton), India (+218 ribu ton), Middle East (+120 ribu ton), Afrika (+106 ribu ton), Malaysia (+38 ribu ton) dan Bangladesh (+7 ribu ton).
GAPKI mencatat, nilai ekspor produk sawit bulan Maret mengalami penurunan dari US$ 3,69 miliar di bulan Februari menjadi US$ 2,61 miliar pada Maret atau turun sebesar -29,27 persen.
Secara YoY sampai dengan Maret, nilai ekspor 2026 naik menjadi US$ 9,66 miliar atau 10,40 persen lebih tinggi dari tahun 2025 sebesar US$ 8,75 miliar.
“Peningkatan nilai ekspor secara YoY terjadi karena meningkatnya volume ekspor dan juga karena harga rata-rata Januari-Maret 2026 sebesar US$ 1.356/ton Cif Rotterdam yang lebih tinggi dari rata-rata Januari-Maret 2025 sebesar US$ 1.230/ton Cif Roterdam,” jelas Mukti.
Dengan stok awal Maret 2026 sebesar 2.026 ribu ton, produksi 4.821 ribu ton, konsumsi 2.115 ribu ton dan ekspor 2.168 ribu ton, maka stok di akhir Maret 2026 menjadi 2.568 ribu ton lebih besar dari 2.026 ribu ton pada stok di akhir Februari 2026. (yer)




