PERKEBUNAN INDONESIA – Indonesia kini menjadi rujukan program biodisel dunia karena dinilai sukses menerapkan mandatory campuran minyak sawit (CPO) hingga 40 persen (B40) secara nasional. Bahkan menjadi salah satu pelaksana program biodiesel terbesar di dunia.
Demikian diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofeul Indonesia (APROBI) Ernest Gunawan dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 bertemakan Dukungan Program Biodiesel Bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).
“B40 saat ini sudah ideal dan berkelanjutan. Ke depan kita tetap optimistis, selama kebijakan disiapkan matang bersama sektor hulu,” kata Ernest.
Dari berbagai negara dunia, menurut Ernest, Indonesia menjadi negara yang paling besar dalam menjalankan program Biodisel dengan campuran 40 persen dari CPO.
Ernest menyebutkan, program B40 saja telah melibatkan sekitar 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir serta menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp140 triliun pada 2025.
“Kita sering disebut ‘big brother’ biodiesel. Skala kita paling besar di dunia,” ujar Ernest lagi.
APROBI pun, tambah Ernest, menyatakan industri siap meningkatkan kapasitas menuju B50, namun implementasinya perlu dilakukan hati-hati agar tidak mengganggu pasokan bahan baku dan kebutuhan pangan.
Pengurus Bidang Komunikasi Media Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mochamad Husni menyatakan pelaku usaha sawit siap menyukseskan kebijakan biodiesel, meski pemerintah tetap perlu berhati-hati sebelum menaikkan campuran ke B50.
“Kami tentu mendukung. Tapi perlu perhitungan matang soal ketersediaan bahan baku. Penundaan B50 mungkin bagian dari kehati-hatian itu,” ujar Husni.
Dari sisi hulu, lanjut Husni, industri melakukan berbagai langkah peningkatan produktivitas, mulai dari kerja sama riset, peremajaan kebun (replanting), hingga inovasi penyerbukan tanaman.
Salah satunya mendatangkan serangga penyerbuk dan bibit unggul dari Tanzania untuk meningkatkan hasil panen.
“Replanting dan peningkatan produktivitas terus kami genjot. Sawit ini industri strategis nasional, jadi harus dijaga keberlanjutannya,” kata Husni.
Sementara itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memperkuat ekosistem sawit melalui berbagai program pendanaan. Dari BPDP, Ahmad Zuhdi mengatakan lembaganya tak hanya mendukung insentif biodiesel, tetapi juga pendidikan, riset, dan peremajaan kebun rakyat.
Pada 2025, kata Zuhdi, BPDP menyalurkan sekitar 4.000 beasiswa bagi mahasiswa di seluruh Indonesia, membiayai penelitian produktivitas sawit, membantu program peremajaan perkebunan, hingga penyediaan sarana prasarana pertanian.
Untuk program biodiesel sendiri, BPDP menanggung selisih harga antara solar dan biodiesel sebagai insentif. Hingga akhir 2025, dukungan untuk sektor PSO mencapai 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun.
“Dana ini berasal dari pungutan ekspor sawit dan dikelola kembali untuk mendukung keberlanjutan industri,” jelas Zuhdi.
Dengan dukungan kebijakan, industri, dan pendanaan, biodiesel sawit dinilai menjadi solusi konkret bagi ketahanan energi nasional. Selain mengurangi impor, program ini menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, tenaga kerja, hingga upaya penurunan emisi. (yer)




