Perkebunanindonesia.com – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan (PRTMP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adnan sebut untuk menghasilkan biji kopi yang berkualitas tidak perlu alat yang canggih.
“Tetapi ada beberapa tahapan penting yang wajib dilakukan oleh prosesor, minimal melakukan pre cleaning yang jarang sekali dilakukan para petani di Indonesia,” ungkap Adnan dikutip Sabtu (18/10/2025).
Menurut Adnan, petani sebagai pembudidaya kopi bertanggung jawab terhadap kopi yang berkualitas dan buah yang memiliki hasil akhir baik.
“Kualitas potensi kopi berada di hulu yang berkontribusi sebesar 40 persen. Pada proses pascapanen berkontribusi sebesar 30 persen,” jelas Adnan.
Sementara itu, lanjut Adnan, kontribusi roaster sebesar 20 persen sangat penting sebagai penentu cita rasa kopi dan kontribusi barista sebesar 10 persen.
“Ketika kopi diproses dengan baik, terkontrol dan terukur dengan adanya teknologi dapat meningkatkan kualitas dan cita rasa kopi,” tambah Adnan.
Adnan menambahkan PRTMP juga memiliki riset mesin sangrai kopi (tipe semi fluidized), sistem utamanya dengan menggunakan aliran udara panas dilengkapi pengaduk mekanis (screw).
Sehingga mesin itu memungkinkan panas lebih cepat dan merata. Alat ini berfungsi meratakan kematangan biji kopi saat proses penyangraian.
Adnan mengungkapkan berdasarkan data, sekitar 2 milyar orang minum kopi per hari dan sudah tergantung dengan kopi.
Menurut Adnan, untuk memenuhi kebutuhan kopi dunia, salah satu cara menjaga kualitas dan cita rasa kopi, yaitu dengan mengendalikan kadar air pada biji kopi.
“Syarat untuk green beans agar dapat bertahan di gudang yaitu memiliki kadar air sekitar 11,5 persen, ketika green beans memiliki kadar air 12 persen atau di bawah 8 persen maka akan bermasalah,” ungkap Adnan.
Adnan mengatakan, kadar air dapat dideteksi dengan menggunakan infrared spectroscopy, infrared ini dapat mendeteksi ikatan hydrogen.
Adnan juga menjelaskan riset teknologi pengolahan kopi yaitu fermentor berbasis ohmic heating. Aplikasi pada fermentasi kopi dengan metode pemanasan listrik termal.
“Pada metode ini listriknya dapat dikendalikan sehingga kecepatan fermentasi bisa dikontrol dan bisa mendapatkan profil rasa yang bisa diatur untuk special taste,” terang Adnan.
Selain itu, lanjut Adnan, sistem evaluasi biji kopi berbasis spectral sensor dan AI. Sistem ini mampu mengidentifikasi green beans (jenis dan indikasi geografis) dan tingkat sangrai kopi yang berkuantifikasi skala Agtron.
Nilai Agtron menjadi basis kualifikasi tingkat sangrai ke dalam 8 tingkat sangrai kopi dan memiliki akurasi alat sampai 99 persen. (fad)




