a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Program MBG Perlu Pertimbangkan Kearifan Lokal Seperti Sagu

Program MBG Perlu Pertimbangkan Kearifan Lokal Seperti Sagu

Program MBG Perlu Pertimbangkan Kearifan Lokal Seperti Sagu

4 Oktober 2025
0
Share on FacebookShare on Twitter

Perkebunaninnndonesia.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan pemerintah  perlu mempertimbangkan  kekhasan makan daerah atau kearifan lokal seperti Sagu di Papua atau wilayah timur Indonesia.

Demikian diungapkan Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Jakata (UMJ) Prof Dr Evi Satispi S.P M.Si dalam keterangan kepada pers di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (4/10/2025).

“Kalau saya melihat dari kebijakan publik memang kita harus juga menggunakan program ini by sentralisasi maupun desentralisasi,” ujar Prof Evi.

Menurut Prof Evi, Indonesia negara yang sangat beragam. Karena itu dalam memberikan kreasi MBG didasarkan dari masing-masing wilayah berdasarkan kebijakan kearifan lokal.

“Seperti di Papua itu sagu. Itu harus dibudayakan bukan justru diintegrasikan yang berbasis menu lokal,” tandas Prof Evi.

 

Bahkan, lanjut Prof Evi, menu makanan di lokal masing-masing bisa masuk ke program lain seperti ketahanan pangan.

Prof Evi menyayangkan, ketika program MBG digulirkan biayanya itu menyedot biaya pendidikan. Bahkan sebagian makanannya itu ada dibuang. Apakah itu efisien?

“Berdasarkan evaluasi jika dipukul rata-rata dampaknya (Keracunan) memang kecil. Tapi kalau didalami kembali pada daerah yang terdampak keracuanan itu banyak yang sudah terkena,” jelas Prof Evi.

Menurut Prof Evi, sebenarnya pemerintah daerah bisa dikolaborasikan dari sekolah-sekolah dari orangtua murid. Sehingga tidak perlu menghabiskan anggaran ratusan triliun dalam program MBG.

“Dari sudut gizi, makanan sehebat apa pun kalau dimasukan ke dalam kemasan itu sudah berubah. Apalagi dimakan sudah lebih dari tiga atau empat jam dari perjalanan. Apalagi makanannya ada sayur dan buah yang rentan dengan jamur dan bakteri,” sebut Prof Evi. (yer)

 

Tags: ketahanan panganprogram mbg

Related Posts

Agrinas Palma dan IPB University Kembangkan Bioetanol

Agrinas Palma dan IPB University Kembangkan Bioetanol

7 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University kembangkan bioetanol berbahan baku singkong, sorgum, dan...

Wamentan Saleh Mustafa Siap Perkuat Kedaulatan Pangan dan Berantas Mafia Pangan

Wamentan Saleh Mustafa Siap Perkuat Kedaulatan Pangan dan Berantas Mafia Pangan

6 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa menegaskan komitmennya memperkuat kedaulatan pangan nasional dan berantas...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Kemenhut Tertibkan 40 Ribu Hektare Lahan Sawit di Tesso Nilo

Kemenhut Tertibkan 40 Ribu Hektare Lahan Sawit di Tesso Nilo

22 Juni 2025
Pemerintah Dorong Sertifikasi ISPO Hulu-Hilir untuk Keberlanjutan Kelapa Sawit

GAPKI Usul Dibentuk Pelaksana Harian Komite ISPO

4 Juni 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.