Perkebunanindonesia.com – Hasil riset terbaru yang dilakukan Wageningen University & Research (WUR) Belanda mengungkapkan bahwa minyak sawit secara signifikan mengungguli minyak kedelai dan rapeseed dalam metrik keberlanjutan penting seperti efisiensi dan dampak ekonomi.
Para peneliti membandingkan kontribusi minyak sawit di Indonesia, minyak kedelai di Brasil, dan minyak rapeseed di Jerman hingga tahun 2030/2040 dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.
Temuan ini menyoroti bahwa minyak sawit tetap menjadi tanaman yang paling efisien dalam pemanfaatan lahan, dengan hasil panen lebih dari dua kali lipat kedelai dan rapeseed dalam skenario ambisius 2040.
Meski begitu, tanaman sawit menyebabkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang lebih tinggi akibat budidaya di lahan gambut dan emisi metana dari limbah pengolahan.
Sebaliknya, rapeseed merupakan pilihan dengan emisi terendah, sementara kedelai menunjukkan potensi peningkatan hasil panen terbesar pada tahun 2040 dengan langkah-langkah keberlanjutan yang ambisius.
Dr. Ir. H. Wolter Elbersen, peneliti senior pasokan biomassa dan rantai produksi berkelanjutan, mengungkapkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kelapa sawit adalah tanaman yang sangat produktif.
“Ini menyiratkan bahwa mengganti minyak sawit dengan tanaman minyak nabati lain kemungkinan akan membutuhkan lebih banyak lahan,” ujar Elbersen seperti dikutip Food Ingredients First.
Berdasarkan skenario perbaikan yang “sangat ambisius” yang diproyeksikan hingga tahun 2040, kelapa sawit memimpin dengan menghasilkan 4,8 metrik ton minyak mentah per hektare (ha) dibandingkan dengan 3,1 metrik ton untuk kedelai dan 2,6 metrik ton untuk rapeseed.
Profesor madya Sistem Produksi Tanaman di WUR Maja Slingerland mengatakan, di Indonesia, masyarakat membutuhkan lahan kelapa sawit yang terbatas untuk mendapatkan penghasilan yang layak.
“Dan produksi kelapa sawit menyediakan lapangan kerja bagi banyak petani kecil dan pekerja karena minimnya mekanisasi yang dimungkinkan,” tambah Slingerland.
Slingerland mengungkapkan, petani kelapa sawit Indonesia membutuhkan kurang dari 0,5 ha untuk mendapatkan upah minimum, dibandingkan dengan 5-7 ha untuk kedelai Brasil dan 15 ha untuk petani rapeseed Jerman.
Dampak ekonominya signifikan: minyak sawit berkontribusi 2,3 persen terhadap PDB Indonesia dengan nilai ekspor US$27,3 miliar, dibandingkan dengan hanya 0,12 persen dari minyak kedelai di Brasil (US$2,06 miliar) dan 0,04 persen dari minyak rapeseed di Jerman (US$1,77 miliar). (yr)





https://shorturl.fm/V6JOx