Perkebunanindonesia.com – Dibentuknya Gerai Sembako yang melengkapi Koperasi Merah Putih diharapkan memperpendek rantai pasok pangan utama.
Masyarakat pun dapat memperoleh pangan pokok kebutuhan sehari-hari dengan lebih ekonomis tanpa ada depresiasi kualitas.
“Ini unntuk mempertegas bahwa permasalahan rantai pasok itu kalau di sembako, itu terlalu panjang, sehingga ini harus dipotong, harus ringkas,” terang Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi selepas di Jakarta seperti dikutip Rabu (2/7/2025).
Lebih lanjut Arief mengatakan, pihaknya mengusulkan nanti ada kurasi produk terlebih dahulu oleh Gapoktan supaya produknya sesuai dengan spesifikasi kebutuhan Koperasi Merah Putih.
“Dari 6 tahapan bisa disederhanakan jadi 2 tahapan sampai masyarakat. Dengan itu, koperasi pun bisa membuahkan profit,” ujar Arief.
Sebagai contoh, dalam rantai pasok perberasan, menyadur kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Distribusi Perdagangan Komoditas Beras Tahun 2024, diperoleh pola perdagangan yang memperlihatkan saluran beras dari produsen sampai konsumen masih perlu melalui beberapa pihak.
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diharapkan dapat mengintervensi pola perdagangan ini.
Dari pola yang terbentuk, produksi beras dari produsen kebanyakan didistribusikan ke pedagang grosir hingga mencapai 62,71 persen.
Lalu 14,06 persen didistribusikan ke pedagang eceran dan hanya 10,85 persen didistribusikan langsung ke konsumen rumah tangga tanpa melalui pedagang perantara.
Arief menambshkan, khusus Gerai Sembako, pasokannya disiapkan dari petani, peternak, Gapoktan, dan j BUMN, BUMD, swasta sampai kalangan asosiasi.
“Badan Pangan Nasional kemarin sudah mengumpulkan semua pemasok yang siap mendukung gagasan besar Bapak Presiden Prabowo ini,” kata Arief lagi.
Adapun pelaku usaha pangan yang menyatakan komitmen mendukung antara lain Perum Bulog, ID FOOD, PT Berdikari, PT Sinergi Gula Nusantara, PT Food Station Tjipinang Jaya, Perumda Dharma Jaya, PT Charoen Pokphand Indonesia, dan PT Japfa Comfeed Indonesia.
Sementara dari kalangan asosiasi antara lain PERPADI, PUSBARINDO, PINSAR, ADDI, dan GIMNI.
“Demi menjadikan Koperasi Merah Putih kompetitif, harga beli di pemasok dan harga jual ke konsumen harus dijaga sangat baik,” jelax Arief.
Arief menekankan, harganya tidak boleh di atas harga mini market modern, justru harus di bawahnya.
“Aspek digitalisasi juga harus dipastikan ada untuk inventory supaya bisa tahu penjualan sehari berapa, stock level berapa. Ini kita minta tolong Telkom untuk itu,” urai Arief.
Terkait komoditas pangan yang akan disediakan dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, terdapat 3 komoditas pangan yang paling dicari-cari masyarakat. Koperasi Merah Putih akan dipastikan menyediakan hal tersebut.
Mengenai produk, kata Arief, minimal beras, minyak goreng, gula, tepung terigu. “ini semua harus ada,” tandasnya.
Demikian jiga beras SPHP juga nanti disalurkan melalui Koperasi Merah Putih. “Jadi kalau masyarakat cari beras murah, itu ada di Koperasi Merah Putih. Minyakita juga kita upayakan ada,” pungkas Kepala NFA Arief Prasetyo Adi. (sat)




