a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
3 November 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
BPDP, Ditjenbun dan PT CWE Latih Petani Sawit Bengkulu Pekuat Kompetensi

BPDP, Ditjenbun dan PT CWE Latih Petani Sawit Bengkulu Pekuat Kompetensi

26 Oktober 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), dan PT Citra Widya Education (PT CWE) melatih petani kelapa sawit di Bengkulu untuk memperkuat kompetensi.

Melalui pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik ini menjadi program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit yang dibiayai BPDP pada Selasa (20/10/2026).

Pemerintah terus mendorong petani kelapa sawit agar semakin mandiri dalam mengelola kebun sekaligus menekan biaya produksi.

Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik gelombang kedua diikuti 167 petani, terdiri atas 40 peserta dari Kabupaten Bengkulu Tengah, 60 peserta dari Kabupaten Seluma, dan 67 peserta dari Kabupaten Bengkulu Selatan di Hotel Mercure Bengkulu.

Sebelumnya, gelombang pertama telah diselenggarakan pada pekan sebelumnya dengan diikuti sekitar 162 peserta dari Kabupaten Mukomuko dan Kabupaten Bengkulu Utara.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, mewakili Gubernur Bengkulu bersama Direktur Utama PT CWE dan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, serta penyerahan ID card peserta secara simbolis.

Direktur Utama PT CWE Stefanus Nugroho Kristono, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pekebun dalam memproduksi dan menggunakan pupuk organik untuk mendukung produktivitas kebun sekaligus menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Nugroho mengajak petani untuk melihat potensi bahan organik di sekitar kebun, seperti limbah pelepah, tandan kosong, kotoran ternak, dan gulma, sebagai sumber daya bernilai.

“Kita perlu mulai melihat potensi bahan organik yang ada di sekitar kita sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanah,” ujar Nugroho.

Lebih lanut Nugroho menegaskan bahwa pupuk organik tidak serta-merta menggantikan seluruh pupuk anorganik, melainkan menjadi bagian dari sistem pemupukan yang berimbang sesuai kebutuhan tanaman, kondisi tanah, ketersediaan unsur hara, dan target produksi.

“Jangan melihat pupuk organik hanya sebagai ‘pupuk murah’. Lihatlah pupuk organik sebagai bagian dari investasi terhadap tanah kita, karena tanah yang sehat merupakan modal utama untuk menghasilkan tanaman yang produktif,” jelas Nugroho.

Menurut Nugroho, kelompok tani dapat mengembangkan usaha pupuk organik dengan mengolah limbah pertanian dan peternakan sesuai standar yang baik, sehingga ketergantungan terhadap input dari luar berkurang dan limbah berubah menjadi produk bernilai ekonomi.

Kepala Dinas TPHP Provinsi Bengkulu Sri Herlin Despita, mengatakan, pembangunan perkebunan di Bengkulu memerlukan pengelolaan lahan yang baik untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Sri Herlin, pemanfaatan pupuk organik sangat penting dalam memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan mikroorganisme tanah, serta membantu penyediaan unsur hara bagi tanaman.

Sri Herlin berharap peserta dapat mendorong tumbuhnya kelompok tani atau kelompok usaha yang mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri, baik untuk mencukupi kebutuhan anggota maupun membuka peluang usaha tambahan.

Dia meminta materi disampaikan secara praktis dan mudah diterapkan sesuai kondisi riil perkebunan di lapangan.

Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Ketenagaan Pusat Pelatihan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Apuk Ismane, memberikan enam poin pembekalan bagi peserta.

Keenam poin tersebut meliputi peningkatan kapasitas SDM pertanian, penguasaan teknis pembuatan pupuk organik, ketepatan aplikasi pupuk sesuai jenis tanaman dan kondisi tanah, penerapan hasil pelatihan di wilayah masing-masing, penguatan kelembagaan dan usaha tani, serta evaluasi dan tindak lanjut bersama penyuluh.

Apuk mengingatkan peserta untuk menghindari penggunaan pupuk yang belum matang karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Pupuk yang matang sempurna ditandai dengan suhu yang stabil, bau menyerupai tanah, dan bahan yang terurai dengan baik.

Menurut Apuk, pelatihan tidak boleh berhenti pada kegiatan belajar, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata di lapangan melalui produksi pupuk bermutu dan penerapannya yang tepat.

Sementara itu, Sekda Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengungkapkan, selama ini hasil panen petani sering belum maksimal akibat tata kelola lahan yang kurang tepat, terutama ketergantungan pada pemupukan anorganik tanpa aturan yang berdampak pada menurunnya kesuburan tanah dari waktu ke waktu.

Karena itu, kata Herwan, pemerintah mendorong penggunaan pupuk organik yang diolah dari bahan daur ulang dan limbah di sekitar perkebunan, seperti sisa tanaman dan limbah pertanian.

Selain lebih hemat biaya, pupuk organik yang diolah dengan teknik benar terbukti dapat meningkatkan kualitas tanah, mengurangi limbah, dan menghasilkan produktivitas tanaman yang tidak kalah bersaing dibandingkan pupuk anorganik.

Herwan menekankan bahwa pengelolaan kebun tidak boleh hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga harus memperhatikan kondisi fisik tanah dan keberlanjutan produksi jangka panjang. Herwan Antoni juga menitipkan pesan kepada sejumlah pihak.

Kepada pekebun dan kelompok tani, ia mengimbau agar mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, terbuka terhadap inovasi, serta mempraktikkan dan menyebarluaskan ilmu yang diperoleh.

Herwan meminta kepada penyuluh dan petugas pendamping, pendampingan aktif dan berkesinambungan pascapelatihan disertai evaluasi di lapangan.

Dia juga berpesan kepada aparatur sipil negara (ASN) di bidang perkebunan agar meningkatkan profesionalisme dan memperkuat koordinasi sehingga lahir kelompok perkebunan yang mandiri, terampil, dan berkemampuan tinggi.

Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan menerapkan ilmunya di kebun masing-masing demi perkebunan kelapa sawit Bengkulu yang produktif, efisien, mandiri, dan berkelanjutan. (*)

Tags: BpdpDitjenbunpelatihan petani sawitPT CWE

Related Posts

BPDP, Ditjen Perkebunan dan PT CWE Perkuat Kompetensi Petani Sawit di Bengkulu

BPDP, Ditjen Perkebunan dan PT CWE Perkuat Kompetensi Petani Sawit di Bengkulu

13 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA – Pemerintah terus mendorong petani kelapa sawit agar semakin mandiri dalam mengelola kebun sekaligus menekan biaya...

Salim Invomas Catat Kenaikan Produksi TBS dan CPO

Plt Dirjen Perkebunan: Peningkatan Produktivitas Tidak Selalu Buka Lahan Baru

23 September 2026

PERKEBUNAN INDONESIA – Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Heru Tri Widarto, menyebut peningkatan produktivitas tidak selalu harus dilakukan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Harga TBS Petani Mitra Swadaya Riau Terus Anjlok

Harga TBS Petani Mitra Swadaya Riau Anjlok Lagi Pekan ini

28 Oktober 2025
Agrinas Palma Nusantara Perkuat Tata Kelola Melalui IPS

Agrinas Palma Nusantara Perkuat Tata Kelola Melalui IPS

8 Juli 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.