PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong hilirisasi sagu Papua melalui kolaborasi riset karena potensinya besar sebagai komoditas nasional.
“Sagu memiliki potensi besar sebagai komoditas strategis nasional. Kolaborasi antara peneliti, industri, dan pemerintah daerah diperlukan untuk mempercepat hilirisasi,” ujar Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono.
BRIN memfasilitasi pemanfaatan hasil riset melalui skema pendanaan dan pendampingan inovasi agar dapat diimplementasikan dan dikomersialisasikan.
Upaya ini, kata Agus, diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk berbasis sagu di pasar nasional maupun global.
Sagu memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Papua sebagai sumber pangan lokal, sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku strategis untuk berbagai sektor, antara lain pangan olahan, farmasi, dan material ramah lingkungan.
Menuut Agus, pemanfaatan tersebut membuka peluang peningkatan nilai tambah serta pengembangan industri berbasis sumber daya lokal.
BRIN berperan melalui penguatan riset dan inovasi sagu, termasuk pengembangan produk pangan seperti mi sagu bebas gluten serta pemanfaatannya untuk kebutuhan industri. Hasil riset tersebut diarahkan untuk mendukung proses komersialisasi dan perluasan pasar.
Melalui Festival Sagu 2026 yang diselenggarakan pada 24–26 April 2026 di halaman Kantor Gubernur Papua, hilirisasi sagu diharapkan menjadi nilai tambah. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem inovasi berbasis sagu sekaligus peringatan Hari Kekayaan Intelektual Sedunia.
Festival melibatkan pemerintah daerah, peneliti, pelaku industri, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kegiatan yang dilaksanakan mencakup pameran produk olahan sagu, demonstrasi teknologi, business matching, dan promosi potensi investasi berbasis sagu dari hulu hingga hilir.
Festival Sagu 2026 diharapkan memperkuat pemanfaatan sagu sebagai penggerak ekonomi daerah serta mendukung pengembangan industri berbasis kekayaan hayati. (fad)




