a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
BRIN Kembangkan Teknologi Pengolahan Gula Semut dari Sorgum

dok BRIN

BRIN Kembangkan Teknologi Pengolahan Gula Semut dari Sorgum

13 April 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis sebagai alternatif sumber gula sekaligus upaya meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan sorgum dipilih sebagai sumber alternatif karena berpotensi besar sebagai bahan baku pangan dan energi, meski selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Sorgum itu satu keluarga dengan tebu, tetapi lebih fleksibel pemanfaatannya. Selain untuk gula, bisa juga untuk bioetanol hingga pakan. Semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan,” ujar Sandi saat dikutip laman brin.go.id, Senin (13/4/2026).

Meskipun kandungan gula sorgum lebih rendah dibandingkan tebu, yakni sekitar 11–15 persen, kata Sandi, tanaman ini tetap menjanjikan sebagai sumber gula alternatif, terutama untuk skala petani dan usaha kecil.

Lebih lanjut Sandi menuturukan, pengolahan gula semut dari sorgum dilakukan melalui serangkaian mesin yang dirancang terintegrasi. Proses dimulai dari pemerasan batang hingga menjadi produk akhir berupa gula semut.

Tahap pertama menggunakan mesin roller press untuk mengekstraksi nira dari batang sorgum. Dari sekitar 100 kilogram batang, rata-rata dihasilkan hingga 20 liter nira, tergantung kondisi tanaman dan lingkungan.

Selanjutnya, nira diolah melalui dua pendekatan berbeda, yaitu menggunakan mesin vacuum evaporator dan open pan cooker. Vacuum evaporator bekerja dalam sistem tertutup dengan suhu lebih rendah, sekitar 60–70 derajat celsius, sehingga menghasilkan gula cair sorgum atau sirup.

Sementara itu, open pan cooker digunakan untuk menghasilkan gula semut. Proses ini berlangsung pada suhu lebih tinggi, sekitar 90-100 derajat celsius, dengan waktu pemasakan lebih lama agar kadar air berkurang mencapai 5–6 persen dan terbentuk kristal gula.

“Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam, tergantung kandungan gula awalnya,” jelas Sandi.

Setelah proses pemasakan, gula yang masih menggumpal dikeringkan kembali menggunakan oven dehydrator untuk menurunkan kadar air. Tahap akhir dilakukan dengan mesin penghancur (crusher) untuk menghasilkan butiran gula semut yang siap dikemas.

Menurut Sandi, salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah efisiensi energi. Jika produksi gula tradisional umumnya menggunakan kayu bakar, teknologi BRIN memanfaatkan gas sebagai sumber panas yang dinilai lebih hemat dan mudah dikontrol.

“Kalau dibandingkan, penggunaan gas lebih efisien secara biaya dan lebih stabil dalam proses,” kata Sandi.

Selain itu, lanjut Sandi, seluruh peralatan dirancang menggunakan material stainless steel tipe food grade, sehingga lebih higienis dan memenuhi standar keamanan pangan. Hal ini menjadi nilai tambah dibandingkan alat tradisional yang umumnya masih menggunakan bahan non-food grade.

Desain alat juga dibuat modular dan mudah dipindahkan, sehingga cocok untuk skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan kapasitas maksimal sekitar 30 liter nira per proses, teknologi ini dinilai ideal untuk kelompok tani atau pelaku usaha kecil di daerah.

Sejak dikembangkan, teknologi ini telah mulai dimanfaatkan melalui kerja sama dengan mitra riset dan industri. Salah satunya adalah Sorghum Center Indonesia (SCI) yang menjadi lokasi uji coba dan pengembangan lebih lanjut.

Untuk aspek hilirisasi, beberapa komponen teknologi seperti mesin open pan cooker telah dilisensikan kepada industri, yakni CV Sentosa Teknik, sementara teknologi lainnya masih dalam proses lisensi.

“Tujuannya agar teknologi ini tidak berhenti di riset, tapi benar-benar bisa digunakan oleh masyarakat dan industri,” ujar Sandi. (far)

Tags: BRINGulasorgum

Related Posts

Tandan Kosong Sawit Berpotensi Besar untuk Perangkat Superkapasitor

BRIN Dukung Pemanfaatan Biomassa Kelapa Sawit sebagai Sumber Energi

25 September 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan boiler biomassa berbahan bakar tandan kosong kelapa sawit...

BRIN Kembangkan Biopestisida Berbasis Minyak Atsiri

BRIN Kembangkan Biopestisida Berbasis Minyak Atsiri

21 Agustus 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan biopestisida berbasis bahan alami dari minyak atsiri untuk...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Harga TBS Petani Mitra Swadaya Riau Terus Anjlok

Harga Sawit Swadaya Pekan Ini Melorot

17 September 2025
Produksi TBS Lonsum Semester I 2025 Turun Dua Persen

Harga TBS Mitra Swadaya Riau Lagi-lagi Naik

20 Agustus 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.