a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Pemerintah akan Mulai Kurangi Impor Gula Rafinasi

Pemerintah akan Mulai Kurangi Impor Gula Rafinasi

Pemerintah akan Mulai Kurangi Impor Gula Rafinasi

16 September 2025
1
Share on FacebookShare on Twitter

Perkebunanindonesia.com – Pemerintah akan mulai mengurangi impor gula rafinasi karena didapati ada yang telah masuk ke pasar umum. Penyerapan gula petani pun terus ditingkatkan.

“Pemerintah tentu semuanya mendukung petani tebu. Untuk itu, pemerintah akan kurangi importasi yang berkaitan dengan gula rafinasi sekitar 200 ribu ton,” ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, seperti dikutip Senin (15/9/2025).

Menurut Arief, gula rafinasi harus dikendalikan karena hanya diperuntukan buat industri, bukan untuk ke pasaran umum seperti gula konsumsi.

Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan diminta untuk mengawasi gula rafinasi ini, karena ada ditemukan di Serang, Banten.

“Di sana masih ada gula rafinasi. Sementara harusnya ini untuk industri. Penindakan hukumnya itu wilayahnya Satgas Pangan Polri,” ungkap Arief.

Untuk diketahui, larangan peredaran gula rafinasi ke pasar umum telah termaktub dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 17 Tahun 2022 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi (GKR).

Pasal 5 dalam beleid itu mengatur bahwa produsen dilarang menjual GKR kepada distributor, pedagang, dan atau konsumen.

Arief memastikan realisasi penyerapan gula petani terus meningkat. Terlebih Danantara telah suntik ID FOOD sebesar Rp 1,5 triliun.

Di samping itu, Arief juga menyampaikan perkembangan penyerapan gula petani yang telah dilaksanakan BUMN, yakni ID FOOD dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), serta swasta.

Langkah ini untuk mengatasi kelesuan lelang gula di tingkat petani. Terlebih produksi gula kristal putih di September ini diproyeksikan menjadi titik kulminasi panen di 2025 ini.

“Intinya kebijakan pemerintah itu mendukung para petani, impor sebisa mungkin jangan. Pokoknya intinya kita sama petani. Kurs dollar juga hari ini tinggi. Jadi memang yang paling benar itu membangun ekosistem pangan di Indonesia, seperti visi Bapak Presiden Prabowo,” jelas Arief.

Arief mengungkapkan, perkembangan penyerapan gula petani dari ID FOOD dan SGN, berjalan bertahap. Saat ini sisa yang belum terserap sekitar 21 ribu ton.

Kemudian yang swasta juga diminta bantu penyerapan gula petani. “Jangan sampai petani tak mau nanam tebu, karena tebunya saat sudah jadi gula, tapi ternyata gulanya tak laku,” tandas Arief.

Per 10 September, total realisasi serapan gula petani yang dipantau Bapanas telah menyentuh angka 60,6 ribu ton. Rinciannya terdiri dari ID FOOD Group 31,5 ribu ton. Lalu asosiasi pedagang/swasta totalnya 22,2 ribu ton dan SGN 6,9 ribu ton.

Sementara sisa gula petani yang belum terserap sebanyak 21,3 ribu ton dan masih ada pengajuan baru sekitar 30 ribu ton, sehingga total target serapan berada di angka 112 ribu ton.

Menurut Proyeksi Neraca Gula Konsumsi per 2 September, produksi gula kristal putih menunjukkan pada September ini merupakan titik kulminasi panen dengan estimasi dapat mencapai 777,6 ribu ton.

Sementara total produksi gula kristal putih sepanjang 2025 ini diperkirakan mencapai 2,5 juta ton. Dari itu ditambahkan stok awal 2025 dan impor raw sugar diperoleh total ketersediaan di angka 4,1 juta ton.

Sementara kebutuhan konsumsi gula Konsumsi setahun di angka 2,8 juta ton, sehingga diproyeksikan stok gula konsumsi secara nasional sampai akhir 2025 masih terdapat 1,3 juta ton.

“Jadi kita sampai dengan akhir tahun, kemungkinan neraca kita masih kelebihan 1,3 juta ton gula konsumsi, sehingga kita lagi berusaha supaya tidak impor. Maksudnya harus diatur produksinya. Kalau kelebihan 1,3 juta ton, itu seharusnya tidak perlu impor,” beber Arief. (sat)

Tags: BapanasDanantaragula kristal putihGula rafinasiID Food

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

16 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Teh Java Preanger membuka peluang memperluas pasar internasional, khusus ke benua Amerika. Permintaan teh tersebut...

Comments 1

  1. Lana4435 says:
    1 tahun ago

    https://shorturl.fm/k6UF6

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Mentan Sebut Harga Pangan Stabil dan di Bawah HET

Mentan Sebut Harga Pangan Stabil dan di Bawah HET

27 Desember 2025
PTPN IV PalmCo Raih Peringkat Hijau PROPER

PTPN IV PalmCo Raih Peringkat Hijau PROPER

10 Mei 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.