Perkebunanindonesia.com – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan produk perkebunan dengan optimal sesuai kabupaten yang sudah didata, seperti potensi pala asal Sulawesi Utara (Sulut) yang memiliki harga tinggi di pasar dunia.
“Di sini harganya Rp70 ribu per kilo, padahal di luar negeri bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Karena itu, kami sudah siapkan 15 ribu hektare untuk pengembangannya, dan bila perlu kita tambah,”ungkap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, seperti dikutip Senin (15/9/2025).
Menurut Mentan, hilirisasi perkebunan menjadi kunci agar potensi besar perkebunan Sulut memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Sulawesi Utara harus menjadi provinsi terdepan di Republik Indonesia. Mari kita bergerak bersama memanfaatkan potensi yang ada,” ujar Amran.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay mengatakan bahwa ketersediaan pangan di daerahnya dalam kondisi aman dan pemerintah daerah terus memperluas lahan pertanian guna mendorong produktivitas.
“Ketersediaan komoditas pangan strategis di daerah ini sangat memadai, sehingga kami dapat memastikan stok pangan mencukupi kebutuhan masyarakat,” ungkap Viktor.
Untuk mendorong sektor ini, lanjut Viktor, Pemprov Sulut telah mengambil langkah komprehensif dalam perluasan wilayah pertanian. Pada tahun 2025 ini, tren produksi berbagai komoditas juga menunjukkan peningkatan.
Victor menambahkan sektor perkebunan Sulut menjadi kekuatan utama dengan total area 403.539 hektare, didominasi oleh komoditas kelapa, cengkih, pala, kakao, kopi, dan vanili.
“Kelapa sebagai komoditas utama memiliki area 264.550 hektare. Namun sekitar 20 ribu hektare di antaranya sudah tua dan membutuhkan peremajaan,” ujar Viktor.
Hal ini, kata Viktor, menjadi prioritas mengingat permintaan pasar terus meningkat. Tahun 2024, ekspor komoditas perkebunan Sulut mencapai Rp2,5 triliun, didominasi kelapa dan produk turunannya.
Wakil Gubernur menegaskan bahwa hilirisasi menjadi strategi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan petani.
Menurut Viktor, petani tidak boleh hanya menjual hasil mentah, melainkan perlu didorong agar produk pertanian memiliki nilai tambah.
Untuk itu, pemerintah daerah tengah mengupayakan diversifikasi produk, penguatan kemitraan dengan industri, perluasan akses pasar, serta peningkatan mutu dan keamanan pangan sebagai bagian dari strategi percepatan kesejahteraan rakyat.
“Penerapan good handling practice dan good manufacturing practice penting untuk meningkatkan daya saing hasil pertanian di pasar global. Dukungan penuh Kementan melalui program dan fasilitasi investasi diharapkan mampu memastikan manfaat hilirisasi dirasakan langsung oleh petani,” tutup Victor. (sat)





https://shorturl.fm/FFMBv
https://shorturl.fm/hRDMK