Perkebunanindonesia.com – Petani teh di Jawa Barat enggan manfaatkan kredit usaha rakyat (KUR) yang ditawarkan pemerintah. Padahal bunganya subsidi.
“Kebanyakan petani tidak mau memanfaatkan KUR karena persyaratannya terlalu ribet,” ungkap Sekretaris Umum Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Dadan Rohdiana kepada perkebunanindonesia.com, Sabtu (26/7/2025).
Apalagi, kata Dadan, kebanyakan petani teh pendidikan rendah, sehingga menyulitkan untuk pemenuhan persyaratan dari perbankan.
“Persyaratan dari bank kan ketat ya. Sedangkan kebanyakan petani teh, mohon maaf, pendidikan rendah. Ini yang susah untuk dipahami mereka kalau berurusan dengan perbankan,” jelas Dadan.
Ditambah lagi, lanjut Dadan, untuk pemenuhan pengajuan kredit harus melengkapi bermacam dokumen. Hal ini yang tidak mudah buat petani.
Selain itu, tambah Dadan, jangka waktu (tenor) pelunasan KUR hanya empat tahun. Sedangkan panen teh masih turun naik.
Untuk mencapai panen maksimal dibutuhkan perawatan kebun yang baik. Sementara harga pupuk tidak murah.
“Pupuk untuk tanaman teh kan tidak disubsidi. Jadi harga pupuk tidak murah,” ujar Dadan.
Dadan menyebutkan, saat ini produksi teh rakyat rata-rata berkisar di bawan 1 ton per hektare. Sedangkan harga pucuk paling rendah sekitar Rp 2.000 per kilogram (kg).
“Makanya petani teh lebih cenderung pilih kredit dari tengkulak atau bank keliling, karena pelunasannya tidak dibatasi. Pengajuannya juga mudah,” jelas Dadan.
Menurut Dadan, agar KUR bisa diserap petani teh sebaiknya dipermudah persyaratannya. Sehingga petani dapat menikmati KUR yang bunganya rendah.
Hal serupa juga diungkapkan Sekretaris Eksekutif Asosiasi Teh Indonesia (ATI) Atik Darmadi. “Banyak petani teh di Jawa tidak mau manfaatkan KUR,” ujarnya kepada perkebunanindonesia.com, Jumat (25/7/2025).
Menurut Atik, pihaknya sudah ikut menawarkan KUR kepada petani sebagai tambahan modal dalam meningkatkan produksi teh.
“Tapi mereka (petani) enggak mau. Sepertinya takut berhutang katanya,” kata Atik.
Padahal, lanjut Atik, bunga KUR hanya 6 persen dibanding bunga bank keliling yang bisa mencapai 25 persen.
Atik menyebutkan, untuk harga pucuk teh saat ini tergantung variasi dan kualitasnya. Harga pucuk premium varian sinensis bisa mencapai Rp 7.000/kg seperti di Cianjur.
“Sedangkan harga pucuk varian assamica harganya antara Rp. 2.700 atau 3.000 per kilogram. Ini yang banyak ditanam rakyat,” terang Atik.
Atik mengatakan, semua pucuk yang dihasilkan diserap pabrik atau industri. Apalagi saat ini produksi teh sedang menurun karena kemarau. (yr)
Baca juga : Pemerintah Harus Serius Beri Perhatian pada Industri Teh Nasional





Comments 1