Perkebunanindonesia.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra PT Kirana Tata Nagari melakukan riset bersama dengan tujuan menghasilkan kopi siap konsumsi yang berkualitas dan aman dikonsumsi.
Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN Titiek Farianti Djaafar mengungkapkan dalam surveinya di beberapa daerah ditemukannya jamur Aspergillus sp. pada biji kopi yang berbahaya bagi tubuh.
“Jamur tersebut telah diketahui mampu memproduksi mikotoksin yaitu Okratoksin A yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Cemaran jamur ini ditemui pada saat proses pengolahan kopi, yaitu saat fermentasi hingga pengeringan,” ujar Titiek dalam Webinar, Selasa (15/7/2025).
Menurut Titiek, pencegahan cemaran jamur penghasil mikotoksin pada biji kopi tersebut dapat dilakukan dengan pencegahan secara biologis.
“Pencegahan secara biologis dilakukan dengan memanfaatkan mikrobia lokal seperti bakteri asam laktat, bakteri asam asetat, dan yeast yang telah diteliti mampu menghambat pertumbuhan jamur penghasil mikotokasin,” papar Titiek.
Keberhasilan penelitian penghambatan sintesis mikotoksin oleh jamur pernah dilakukan Titiek dan tim pada komoditas kakao. Kini riset serupa akan diuji juga pada komoditas kopi.
Dalam riset pada fermentasi biji kakao terungkap bahwa penambahan bakteri asam laktat, bakteri asam asetat, dan yeast lokal dapat menghambat pertumbuhan jamur Aspergillus niger YAC-9, serta menghambat sintesa Okratoksin A.
Pendiri PT Kirana Tata Nagari Noverian Aditya menjelaskan tujuan kolaborasi riset dengan PRTPP BRIN, adalah melakukan riset untuk menghasilkan biji kopi yang berkualitas dan aman dikonsumsi.
Noverian mengungkap pentingnya pengolahan kopi yang dilakukan secara terintegrasi antara petani, industri, dan lembaga riset.
“Industri berperan dalam memperbesar skala bisnis petani melalui capacity building, pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan warga. Sedangkan lembaga riset berperan dalam menjaga kualitas dan membuat standar proses kopi yang baik dan benar,” jelas Noverian.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Mirwan Ushada menjelaskan rekayasa dan teknologi kansei untuk desain produk pangan.
Rekayasa kansei bertujuan untuk mengukur seberapa sensitif perubahan parameter produk terhadap faktor manusia dalam memberikan nilai tambah suatu produk. (har)





Comments 1