a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Kolaborasi Sektor Energi dan Industri Pupuk Jadi Kunci Ketahanan Pangan

Kolaborasi Sektor Energi dan Industri Pupuk Jadi Kunci Ketahanan Pangan

26 Mei 2025
0
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, perkebunanindonesia.com – PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan kolaborasi erat antara sektor energi dan industri pupuk menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang menjadi bagian dari visi Asta Cita pemerintah.

“Kami ingin menekankan bahwa kolaborasi antara industri pupuk dan sektor energi sangatlah erat. Sektor energi memiliki peranan penting dalam kesuksesan Indonesia menuju swasembada pangan,” kata Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi seperti dikutip Minggu (25/4/2025).

Rahmad menekankan pentingnya kolaborasi erat antara sektor energi dan industri pupuk dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang menjadi bagian dari visi Asta Cita pemerintah.

Rahmad mengatakan, keterkaitan industri pupuk dengan sektor energi, khususnya minyak dan gas (migas) sangat tinggi karena gas alam merupakan bahan baku utama dalam proses produksi pupuk.

Menurut Rahmad, sektor energi memegang peranan besar dalam keberhasilan atau kegagalan ketahanan pangan Indonesia.

“Keberadaan pupuk berkontribusi 62 persen pada produktivitas pertanian nasional dan 75 persen bahan baku pupuk berasal dari sektor migas,” jelas Rahmad.

Menurut Rahmad, industri pupuk pada dasarnya adalah bentuk hilirisasi dari gas alam yang amat penting untuk pertanian.

Oleh karena itu, kata Rahmad, penguatan sinergi antara industri energi dan pupuk harus terus dilanjutkan untuk menjaga ketahanan pangan.

Industri pertama yang dibangun oleh pemerintah Indonesia adalah industri pupuk yang pada dasarnya merupakan bentuk hilirisasi gas alam.

“Karena itu, kami memiliki rekam jejak yang panjang dalam hal hilirisasi dan harus terus melanjutkannya agar dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ketahanan pangan,” ujar Rahmad.

Rahmad menambahkan Pupuk Indonesia akan terus mengembangkan upaya hilirisasi gas alam untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Saat ini, lanjut Rahmad, perusahaan telah menjadi pemain utama dalam hilirisasi gas menjadi produk amonia dan turunannya. Ke depan, Pupuk Indonesia juga akan memperluas portofolio hilirisasi ke produk berbasis metanol.

Pupuk Indonesia juga akan mentransformasi strategi penyediaan pasokan gas. Selama ini, Pupuk Indonesia membangun pabrik pupuk di dekat sumber gas guna menjamin kelangsungan pasokan.

Namun, seiring meningkatnya kebutuhan gas, perusahaan akan mulai mengadopsi pendekatan baru dengan memanfaatkan gas alam cair (LNG) yang lebih fleksibel.

“Ke depan kami akan mulai beralih ke LNG. Kami akan mulai menggunakan LNG dalam jumlah signifikan dan proporsinya akan terus meningkat,” ujar Rahmad.

Pupuk Indonesia berencana memanfaatkan pasokan gas dari Lapangan Abadi Wilayah Kerja Masela bagi pabrik blue ammonia yang akan dibangun di Pulau Yamdena, Maluku.

Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2030 itu diperkirakan membutuhkan pasokan gas jangka panjang sebanyak 150 Juta Kaki Kubik Standar per Hari (MMSCFD).

Dengan memanfaatkan cadangan gas raksasa di Lapangan Abadi Masela, proyek ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat, serta mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pupuk Indonesia berencana membangun pabrik metanol dan mengembangkan blue ammonia di kawasan Nangroe Aceh Darussalam yang lokasinya berdekatan dengan Wilayah Kerja South Andaman.

Fasilitas pabrik metanol diperkirakan akan membutuhkan pasokan gas sebanyak 115 Juta Kaki Kubik Standar per Hari (MMSCFD). Sementara untuk pabrik blue ammonia diperkirakan membutuhkan pasokan gas sebesar 85 MMSCFD.

Proyek pabrik metanol dan blue ammonia juga berperan penting memperkuat hilirisasi dan transisi energi rendah karbon.

Hal ini karena metanol dan blue ammonia merupakan komoditas energi bersih yang semakin dibutuhkan dalam ekosistem energi masa depan. (har)

Tags: Pupuk

Related Posts

BPDP, Ditjen Perkebunan dan PT CWE Perkuat Kompetensi Petani Sawit di Bengkulu

BPDP, Ditjen Perkebunan dan PT CWE Perkuat Kompetensi Petani Sawit di Bengkulu

13 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA – Pemerintah terus mendorong petani kelapa sawit agar semakin mandiri dalam mengelola kebun sekaligus menekan biaya...

Salim Invomas Catat Kenaikan Produksi TBS dan CPO

Plt Dirjen Perkebunan: Peningkatan Produktivitas Tidak Selalu Buka Lahan Baru

23 September 2026

PERKEBUNAN INDONESIA – Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Heru Tri Widarto, menyebut peningkatan produktivitas tidak selalu harus dilakukan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

IPOC 2025, GAPKI Dorong Tata Kelola dan Daya Saing Industri Sawit

IPOC 2025, GAPKI Dorong Tata Kelola dan Daya Saing Industri Sawit

28 Oktober 2025
Maluku Utara Bakal Jadi Percontohan Pengembangan Kelapa Genjah

Maluku Utara Bakal Jadi Percontohan Pengembangan Kelapa Genjah

24 Juni 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.