JAKARTA, perkebunanindonesia.com – Penyakit busuk pangkal batang lada masih menjadi tantangan serius. Inovasi teknologi menjadi kunci dalam mengatasi penurunan produktivitas.
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto mengatakan, peningkatan serangan penyakit didorong oleh degradasi lahan, perubahan iklim, dan lemahnya regenerasi varietas tahan penyakit.
“Karena itu, inovasi teknologi menjadi kunci dalam upaya meningkatkan produktivitas lada nasional,” ujar Setiari seperti dikutip lama BRIN.
Penyakit tanaman lada seperti belang akibat virus dan busuk pangkal batang (BPB) masih menjadi tantangan serius bagi produktivitas lada di Indonesia.
Isu ini menjadi fokus utama dalam webinar EstCrops_Corner #13 yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Tanaman Perkebunan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Selasa (29/4).
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari mengatakan, lada merupakan komoditas strategis nasional yang tetap menjadi prioritas riset. Indonesia masih menjadi salah satu eksportir utama lada hitam dunia.
“Namun, produksi terus menurun, terutama akibat penyakit belang yang disebabkan oleh virus dan BPB akibat cendawan Phytophthora capsici,” ujar Puji.
Puji mencatat kerugian akibat BPB dapat mencapai 10–15 persen per tahun. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan petani.
Peneliti Ahli Madya BRIN, Miftakhurohmah, menjelaskan bahwa penyakit belang pada lada di Indonesia disebabkan virus Piper yellow mottle virus (PYMoV).
Menurut Miftakhurohman, virus ini menyebabkan gejala mosaik kuning, belang, dan kerdil pada tanaman, dengan tingkat infeksi hingga 95 persen pada stek vegetatif. Penularan utamanya melalui bahan tanam dan vektor serangga seperti Planococcus minor dan Ferrisia virgata.
“Deteksi dini dan penggunaan bahan tanam bebas virus menjadi strategi utama pengendalian,” tegas Miftakhurohmah.
Miftakhurohman menekankan pentingnya metode molekuler seperti PCR dan RT-PCR untuk memastikan kesehatan bahan tanam.
Data lapangan dari Sukabumi, Lampung, dan Bangka menunjukkan bahwa peningkatan infeksi virus berbanding lurus dengan penurunan hasil panen, yang bisa mencapai lebih dari 20 persen.
Sementara itu, Dyah Manohara, Peneliti Ahli Utama BRIN, memaparkan pendekatan terpadu untuk mengatasi BPB, penyakit laten yang telah ditemukan sejak 1885.
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Phytophthora capsici dan menyerang seluruh bagian tanaman melalui tanah dan air.
Dyah menerangkan bahwa pengendalian BPB tidak cukup dengan satu metode. Ia menekankan pentingnya agen hayati seperti Trichoderma harzianum yang dapat menekan serangan hingga 50 persen dan mikoriza Glomus yang efektif di tahap pembibitan.
Selain itu, penggunaan fungisida nabati seperti tepung bunga cengkeh dan minyak atsiri eucalyptus dalam bentuk nano-formulasi menunjukkan hasil menjanjikan.
“Penggunaan fungisida nabati menjadi alternatif penting untuk mengurangi residu kimia pada komoditas ekspor,” ujar Dyah. (har)




