a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada Masih Jadi Tantangan Serius

Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada Masih Jadi Tantangan Serius

Penyakit Pada Lada Masih Jadi Tantangan Serius

4 Mei 2025
0
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, perkebunanindonesia.com – Penyakit busuk pangkal batang lada masih menjadi tantangan serius. Inovasi teknologi menjadi kunci dalam mengatasi penurunan produktivitas.

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto mengatakan, peningkatan serangan penyakit didorong oleh degradasi lahan, perubahan iklim, dan lemahnya regenerasi varietas tahan penyakit.

“Karena itu, inovasi teknologi menjadi kunci dalam upaya meningkatkan produktivitas lada nasional,” ujar Setiari seperti dikutip lama BRIN.

Penyakit tanaman lada seperti belang akibat virus dan busuk pangkal batang (BPB) masih menjadi tantangan serius bagi produktivitas lada di Indonesia.

Isu ini menjadi fokus utama dalam webinar EstCrops_Corner #13 yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Tanaman Perkebunan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Selasa (29/4).

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari mengatakan, lada merupakan komoditas strategis nasional yang tetap menjadi prioritas riset. Indonesia masih menjadi salah satu eksportir utama lada hitam dunia.

“Namun, produksi terus menurun, terutama akibat penyakit belang yang disebabkan oleh virus dan BPB akibat cendawan Phytophthora capsici,” ujar Puji.

Puji mencatat kerugian akibat BPB dapat mencapai 10–15 persen per tahun. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan petani.

Peneliti Ahli Madya BRIN, Miftakhurohmah, menjelaskan bahwa penyakit belang pada lada di Indonesia disebabkan virus Piper yellow mottle virus (PYMoV).

Menurut Miftakhurohman, virus ini menyebabkan gejala mosaik kuning, belang, dan kerdil pada tanaman, dengan tingkat infeksi hingga 95 persen pada stek vegetatif. Penularan utamanya melalui bahan tanam dan vektor serangga seperti Planococcus minor dan Ferrisia virgata.

“Deteksi dini dan penggunaan bahan tanam bebas virus menjadi strategi utama pengendalian,” tegas Miftakhurohmah.

Miftakhurohman menekankan pentingnya metode molekuler seperti PCR dan RT-PCR untuk memastikan kesehatan bahan tanam.

Data lapangan dari Sukabumi, Lampung, dan Bangka menunjukkan bahwa peningkatan infeksi virus berbanding lurus dengan penurunan hasil panen, yang bisa mencapai lebih dari 20 persen.

Sementara itu, Dyah Manohara, Peneliti Ahli Utama BRIN, memaparkan pendekatan terpadu untuk mengatasi BPB, penyakit laten yang telah ditemukan sejak 1885.

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Phytophthora capsici dan menyerang seluruh bagian tanaman melalui tanah dan air.

Dyah menerangkan bahwa pengendalian BPB tidak cukup dengan satu metode. Ia menekankan pentingnya agen hayati seperti Trichoderma harzianum yang dapat menekan serangan hingga 50 persen dan mikoriza Glomus yang efektif di tahap pembibitan.

Selain itu, penggunaan fungisida nabati seperti tepung bunga cengkeh dan minyak atsiri eucalyptus dalam bentuk nano-formulasi menunjukkan hasil menjanjikan.

“Penggunaan fungisida nabati menjadi alternatif penting untuk mengurangi residu kimia pada komoditas ekspor,” ujar Dyah. (har)

Tags: lada

Related Posts

Kemendag Ubah Aturan Spesifikasi Teknis Ekspor Karet Alam

Komoditas Karet Diminta Masuk Dalam Skema BPDP

7 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Anggota Komisi IV DPR RI Darori Wonodipuro mendorong komoditas karet agar dapat masuk dalam skema...

Kementan Mendorong Pengembangan Pala Sulut yang Harganya Tinggi

Kemendag Pacu Daya Saing Komoditas Pala di Pasar Global

5 September 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memacu daya saing komoditas pala Indonesia di pasar internasional melalui penguatan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

2021 is officially the summer we learned to say no

16 Maret 2025
Riset Wageningen University Ungkap Sawit Ungguli Kedelai dan Rapeseed

Riset Wageningen University Ungkap Sawit Ungguli Kedelai dan Rapeseed

23 Agustus 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.