PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut produksi bawang merah nasional di sejumlah serta produksi utama masih terkendali meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem.
“Produksi bawang merah nasional masih mencukupi, bahkan Indonesia juga terus melakukan ekspor,” ungkap Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Taufiq Ratule, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Ratule menyebutkan, produksi nasional rata-rata mencapai sekitar 2 juta ton konde basah atau setara 1,3 juta ton rogol kering panen per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasional berada di kisaran 1,26 juta ton per tahun.
Ratule pun menjamin produksi bawang merah nasional hingga saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Muhammad Agung Sunusi, menjelaskan musim tanam Maret–Mei tahun ini diwarnai cuaca ekstrem yang memicu serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti ulat grayak dan moler, sehingga memengaruhi produktivitas di beberapa sentra produksi.
Meski demikian, lanjut Agung, distribusi bawang merah dari berbagai daerah seperti Nganjuk, Enrekang, Pati, Brebes, Temanggung, dan Garut masih berjalan lancar.
“Kami terus berkoordinasi dengan dinas pertanian, petani champion, pelaku usaha, dan berbagai pihak terkait agar pasokan tetap aman,” ujar Agung.
Agus mengatakan, produksi diperkirakan meningkat pada Juni 2026 seiring masuknya masa panen di sejumlah sentra utama.
Petani champion bawang merah asal Enrekang, Kasmidi, menyebut panen di wilayahnya masih berlangsung hingga menjelang Iduladha dengan distribusi rutin ke Kalimantan sebanyak tiga kali dalam sepekan.
Sementara itu, champion bawang merah asal Solok, Amri Ismail, mengatakan panen raya di daerahnya diperkirakan berlangsung pada pertengahan Juni dan akan memperkuat pasokan untuk wilayah Sumatra.
Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra, menyampaikan stok bawang merah hingga akhir Mei masih tersedia meski produksi di sejumlah daerah mengalami penurunan sekitar 30–40 persen akibat cuaca ekstrem.
“Harga diperkirakan masih berada di atas harga acuan hingga Iduladha karena meningkatnya permintaan masyarakat. Namun, kondisi diproyeksikan kembali normal seiring masuknya panen dari berbagai sentra produksi,” ujar Dian.
Kementan memastikan terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan produksi, distribusi, dan harga bawang merah di berbagai daerah guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan nasional selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). (sat)




