PERKEBUNAN INDONESIA – Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Hortikultura Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fransiska Renita Anon Basundari, menemukan potensi peningkatan produktivitas bawang merah melalui pendekatan metabolomik.
Temuan tersebut diperoleh dari studi pada bawang merah asal true shallot seed (TSS), yang menunjukkan potensi multiplikasi umbi dari satu benih menjadi dua hingga tiga umbi.
“Hal ini menunjukkan adanya peluang peningkatan produktivitas,” ungkap Fransiska dalam webinar HortiActive #26, Rabu (6/5/2026).
Fransiska menjelaskan bahwa metabolomik merupakan pendekatan yang mampu menggambarkan kondisi fisiologis tanaman secara menyeluruh. “Metabolit merupakan produk akhir metabolisme yang mencerminkan fenotipe biologis,” ujarnya seperti dikutip bro.go.id.
Lebih lanjut Fransiska menjelaskan, metabolomik dapat digunakan untuk menghubungkan genotipe dan fenotipe serta mengidentifikasi metabolit yang berperan dalam pertumbuhan tanaman. Melalui analisis berbasis nuclear magnetic resonance (NMR), juga mengidentifikasi peran metabolit histidin yang berpotensi memengaruhi proses multiplikasi umbi.
Pemanfaatan teknologi omik dalam pertanian terus berkembang dan membuka peluang baru dalam pengembangan hortikultura yang berkelanjutan.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya genetik hortikultura sebagai aset strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan daya saing.
“Keanekaragaman sumber daya genetik hortikultura merupakan aset strategis untuk mendukung ketahanan pangan, meningkatkan nilai ekonomi, serta beradaptasi terhadap perubahan iklim dan berbagai cekaman,” ungkap Puji.
Optimalisasi pemanfaatannya, lanjut Puji, menjadi kunci dalam pengembangan hortikultura yang berkelanjutan dan berdaya saing. Perkembangan teknologi biologi modern, khususnya pendekatan multi-omics, membuka peluang besar dalam percepatan pemuliaan tanaman.
“Pendekatan multi-omics, termasuk metabolomik, memungkinkan analisis yang komprehensif terhadap profil metabolit yang berkaitan dengan fenotipe tanaman,” jelas Puji.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menyampaikan keanekaragaman sumber daya genetik merupakan elemen penting dalam inovasi hortikultura dan sangat terkait dengan upaya peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan berbagai teknologi.
“Diversitas genetik menjadi aset penting untuk meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan,” ujar Dwinita.
Melalui kolaborasi nasional dan internasional, pengelolaan sumber daya genetik dapat memperkuat sistem inovasi pertanian dan mendorong pengembangan hortikultura yang berkelanjutan. (far)




