Perkebunanindonesia.com – Pemerintah mendorong pola Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) karena dinilai memberi manfaat ganda.
Demikian diungkapkan Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), Tri Melasari, dalam sebuah FGD di Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu.
Tri Melasari menegaskan, integrasi sapi di kebun sawit saling menguntungkan mulai dari peningkatan produksi daging nasional hingga efisiensi biaya pemeliharaan kebun.
“Dengan adanya sapi di kebun kelapa sawit dapat mengurangi biaya pupuk herbisida kurang lebih 30 persen,” jelas Tri.
Pemerintah mendorong pola Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) untuk diterapkan lebih luas, terutama di Kalimantan Selatan.
“Ini menjadi momen penting untuk menguatkan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar Tri.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalsel, Suparmi, mengatakan kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis daerah yang menopang perekonomian lokal.
Pemanfaatan lahannya untuk penggembalaan sapi sekaligus dapat mendorong percepatan swasembada daging.
“Kami berinisiatif untuk memanfaatkan secara maksimal semua sumberdaya lahan, baik itu lahan perkebunan, lahan tanaman pangan, lahan pemutaran yang bisa dimanfaatkan untuk pangan, maupun lahan bekas ekstraksi tambang,” ujar Suparmi.
Suparmi menyebutkan, dari total 16,38 juta hektare (ha) kebun sawit di Indonesia, 4,4 juta ha direkomendasikan untuk SISKA. Potensi sapi yang bisa dipelihara di kebun sawit mencapai 2,2 juta ekor.
Di Kalsel, lahan sawit mencapai 504 ribu ha, 86 persen dikelola perusahaan, sisanya oleh pekebun rakyat.
Sebanyak 13 perusahaan sudah menandatangani komitmen untuk menerapkan SISKA. Pemerintah menargetkan implementasinya bisa segera berjalan. (sat)





https://shorturl.fm/3rx8Q